Sabtu, 15 November 2014

Antara Aku dan Dia

Aku tak mampu lgi mengelak, kecemberuan itu nampak jelas dari jawaban-Nya...
Dia tak ingin ku berpaling, tak ingin pula cintaku habis terbuang jdi puing...
Seruannya seakan memanggilku dgn lembut, kelembutan yg menembus bising hiruk pikuk kota yg semrawut...

Seakan Maha Cinta bertanya, "Kurangkah kepastian Janji-Ku padamu..?"

Aku terlena megahnya dunia yg sementara, kini semua makin membuat ku merana...

Lembaran-lembaran lusuh yg dahulu ku baca seakan hidup, mempertanyakan kisah dan cahayaku yg kian redup...
Tersengal nafasku mengingat panjangnya waktu terbuang sia-sia, betapa aku seringkali mengingkarinya, betapa tlah jauh aku pergi meninggalkan ikrarku...

Sungguh, tak sedikitpun aku lupa, dan tak satupun alasan mampu ku baca...
Namun celakanya diriku yg terlena oleh tipu daya dunia, seakan aku berjuang di dalamnya padahal aku sedang berada di pinggiran jurang dgn api yg menyala-nyala...

Hampir saja langkahku tergelincir, nyaris saja aku terjerat dlm kepalsuan yg menghinakan...

Dia Yg Maha Mengerti, bahwa aku ini mudah sekali termakan halusinasi...
Dia juga Yg Maha Penyantun, yg tak pernah menutup jalanku utk kembali dan pulang...
Ke dlm pangkuannya, bersujud dgn peluh di Mihrab-Nya.....

Jatuh Bangun Arjuna Mungil

Ku ingat Arjuna belajar berjalan, menata jejak
kakinya di sisi meja...
Gemetar kakinya menopang berat tubuhnya,
perlahan kaki berayun memulai langkah
pertamanya...
Pegangannya terlepas dari bibir meja, menjauh
seraya berjalan terbata penuh tanya....
Oops..!
Dia terjatuh, tak menjerit sedikitpun...
Memandang sekeliling seakan meminta
pertolongan, hatinya redup redam mengalami
pembelajaran...
Ia pun berdikari dgn segenap rasa ingin
tahunya, menungging dan mencoba utk bangkit
dari kegagalannya...
Perlahan tubuhnya yg gempal menggemaskan
kembali berdiri, tubuhnya bak pohon yg di terpa
angin kesana kemari...
Satu,
Dua,
Tiga langkah ia terduduk kembali...
Bibir mungilnya seolah menciut, mentalnya
seakan teruji dgn rasa takut...
Air mata menggenang di pelupuk matanya, kini
tangannya meraba rangkak mencari Ibunya...
Namun Arjuna lelaki tangguh, ia pendam
tangisannya, dan ia hapus putus asanya...
Ia terdiam seakan memanjatkan doa, hatinya
penuh harap akan keberhasilannya...
Tak lama kemudian, ia seakan mendapat
kekuatan...
Betisnya lebih kuat, pijakkannya pun lebih
mantap...
Seolah tanpa ragu dan malu, ia melangkah
penuh kepastian dlm haru sang waktu...
Ia berjalan kearah pintu, hingga sang Ibu
menjemputnya penuh haru...

Kisah Abadi

Samar tercium harum namamu, masih berbekas cerita panjan penjelajahanmu.....
Tak terbaca sosokmu yg gagah, saat basah keringat masih melekat di kulit.....

Perjuangan terus mengalir, bersama jiwa yg abadi dalam alunan takdir.....

Meresapi kesunyian yg berhembus malam ini, lembut angin bertiup titipkan kerinduan utk mereka.....

Para sahabat yg mendaki bersamaku,
utk Mereka yg slalu nikmati ketinggian,
Dan utk mereka yg mati dalam perjuangan.....

Depok, 31 Mei 2011

Celah

Satu dekade ku arungi dan selami penantian ini,
dan sepanjang itu pula mereka datang silih berganti utk di uji.....
Kau dengar kabarku yg mulai berani utk berlari,
berusaha mencari gadis lain yg dapat ku ajak bernyanyi.....

Satu...
Dua...
Dan yg ketiga pun tak mampu mengimbangiku.....

Mereka gagal sesudah mencoba,
mereka jatuh ketika menaiki tangga estetika.....

Mungkin memang jalan terlarang itu tak boleh ku lalui,
Hingga aku pun di tuntut utk kembali.....

Kemarin, kala kita di sambut dinginnya kabut,
di peluk basah dan teduhnya hutan.....

Ku rasakan harmomi yg lama menghilang dari hati,
Seakan menyentuh imaji,
menghidupkan jiwaku yg telah lama mati.....
Namun ku tak mampu banyak berkata dan bertanya,
tak ingin ku rusak warna dari kerinduan yg terasa.....

Menatap kisahmu yg terpampang indah,
ku tak mampu berkilah,
namun aku enggan utk menyerah.....
Hanya berusaha utk merekah,
paling tidak aku punya harapan dan menyimpan rasa,
Kau pun tau bahwa aku bukan lelaki biasa dan tak mudah utk menyerah.....

Stories at 21st Years old

Tentang mimpi yg terungkap melalui kata, harapan yg menjelma dalam sebuah nama.....
Anugerah tak henti tertumpah, pantang rasanya utk menyerah dan pasrah.....
Aku di ciptakan bukan utk menentang takdir, tetapi aku di didik utk membangun kisah yg harus ku ukir.....
Gambaran malam kian jelas, sorot temaram makin tegas.....

Belati ku tebas, ke arah kemustahilan yg mesti ku pangkas.....
Jejak-jejak langkah tergerus arus, membuat intuisiku bangkit menembus tiap belukar yg menghunus.....
Ketika jalan buntu ku temui, tak sedikitpun hati berbalik utk kembali.....
Ku duduk bersanding dgn alibi, biarkan senandung alam menuntunku bergaul dgn imaji.....

Meruntuhkan ambisi yg melemahkan hati, meredam kegusaran dan menepi di sudut hari-hari.....
Bukan memaksa diri utk mencapainya, tetapi melatih diri utk nikmati tiap detik perjalanan ini....
Sekiranya ku uraikan realita ini, sungguh ini hanyalah satu-satunya jalan utk pulang dan kembali.....

Kembali kepada Ilahi dan Eksistensi yg Hakiki.....

Stories at 21st

Sampai ku di titik Cahaya, angin sebarkan sinarnya, bentangkan kilauan warna cakrawala.....
Meretas dinding problema, uraian kabutpun menjelma, siasati konsekuensi yg harus ku terima.....

Perlahan tabir terbuka penuh makna, hantarkan ku masuk dalam sensasi ruang fana.....
Ku temui Tuan sementara hatiku dalam keresahan, nikmati tiap pujian terlantun penuh kerinduan.....
Tak mesti ku ceritakan, Niscaya hadir buah ketenangan bak air terjun keberkahan.....
Membasuh relung wajahku, menelusup ke dalam darahku, menyegarkan syaraf di nadiku.....

Tersulutlah kesadaran oleh teduhnya, membaralah api menerangi singgasana.....
Biaskan harapan musnahkan keraguan, membuka jawaban atas semua tanya.....

Dimensi dan Esensi memuai, endapan imaji mencumbu alibi, kini solusi tersaji dan menanti utk di tunggangi.....

Benahi letak hakiki puncak yg hendak kau daki, sementara rimbanya selalu sajikan berbagai pelajaran berbungkus halangan dan rintangan.....

Si Bungsu yang Pergi Lebih Awal

Hari ini... Ku teringat kembali,
Hembusan angin yg menyambut kita di Puncak Tertinggi...
Debu-debu yang berhamburan,
Ku lihat melekat di kulit sepatu yang kau pakai...
Kau terlalu muda untuk berakhir kawan,
Aku pun sulit untuk percayai ini...
Tapi itulah takdir,
Biar ku terima dan coba mengerti...
Meski masih banyak tanya yang tersimpan dalam lebat'y belantara...
Betapa kau membuatku selalu teringat senja itu...
Pendakian terakhir yang kita lakukan bersama...
Layak'y di rumah sendiri,
Kita berbaring diatas matras dalam rangkulan kabut senja di Rimba Salak...
Menatapi rimbun'y pepohonan dan monyet-monyet yang bergelantungan...
Rasa'y ingin ku ulangi lagi waktu,
Namun kini ku hanya bisa menyimpan'y...
Akan ku tanamkan semua Citamu dalam tiap langkahku...
Termasuk hari ini...
Kau lihat kawan...
Betapa indah'y tempat ini ...
Ku yakin kau akan senang dan bahagia berada disini...
Hanya sebuah batu bertuliskan namamu yang ku ukir...
Yang membuatku slalu rindu akan celotehmu,
Yang membuatku teringat kejadian-kejadian lucu itu...
Kau tetaplah saudaraku...
Dan darahmu mengalir dalam darahku ...

 
to : Alm. Bayu Prayoga

Pohon Yang Besar

Teriknya Mentari menyaksikan apa yang telah terjadi ...
Aku adalah Satu,
Dari sebagian banyak daun dari sebuah pohon yang besar ...
Angin yang menuntunku,
Untuk telusuri benang yang menjulur penuh cahaya ...
Disaat semua daun yang berbeda berkumpul,
Aku seakan terasingkan,
Di tengah megahnya keyakinan ...
Bahkan di antara kumpulan sedarah,
Aku seperti Sendiri ...
Semua tertutup,Semua seakan buta ...
Menatap aku yang telah berbeda barisan dari mereka...
Aku hanya menarik bibirku,
Senyum ku berhujat lembut penuh kebisuan ...
Aku anggap ini sebagai indahnya perbedaan,
karena Ego dan Sejarah telah membutakan mereka ...

Jumat, 14 November 2014

Di Batas Hari

Di batas hari ku termangu,
Cukup lama hingga resah pun membeku.....
Membongkar susunan mimpi yg nyaris mati,
Dapati kelabu menyinggung segala ambisi dan elegi.....

Senada ku hentakkan keraguan,
Menyeret setiap kemustahilan,
Dan menata dinding-dinding kekuatan.....
Ku bangun tiap dasar mimpi dgn imaji,
Kokohkan tiangnya dgn harapan yg murni,
Lalu ku dirikan tujuan dgn perjuangan hakiki.....

Ku alami dinginnya tanggapan,
Ku dapati sinisnya pandangan,
Dan ku terima segala penghinaan.....

Biasa,
Seperti biasa.....
Nikmati sensasi mesra yg menggelayut di lidah,
Dimana pahit dan manis membekas dan merekah.....
Hadapi tiap ketakutan yg di isyaratkan,
Siapkan bekal tuk hadapi segala rintangan.....
Yg sama hanya dinamika,
Iramanya cenderung mempesona,
Namun tak semua mata dapat melihatnya.....

Senantiasa ku ingat getir butir garam yg ku kecap,
Jadikan hitam sebagai penghias tuk hadapi hidup dgn sigap.....
Dahulu,
Banyak yg mencoba tuk jalan bersamaku.....
Segala kata manis ku tuai dan terlena,
Hingga akhirnya merana di tipu nestapa.....
Terluka itu pasti,
Namun hikmah mesti di gali.....

Ku rebah di antara pergantian hari,
Tertegun menyelami langkah mengejar mimpi.....
Siapkan nyali hadapi segala keangkuhan dunia,
Menebus cita dan siap tuk korbankan air mata.....

Rindu Membiru

Terbenam rembulan di ufuk barat,
Sembunyikan tanya di balik semburat.....
Alibi mencuat mengusung angin,
Buyar di tempa tatapan mata yg dingin.....
Di batas lembaran kisah ku terbungkam,
Menutup jalan keraguan yg harus di redam.....
Menembus tiap resah berbalut rasa,
Mengusir sepi yg menghambat cita.....

Temaram ku cumbui,
Lalu larut dalam lamunan sang putri.....
Ku semai rindu,
Ku tabur nada biru di jejak malam yg membisu.....

Ada gelak tawa yg tersita,
Mengimpikan canda mesra yg tertunda,
Seperti mendung yg lewat tanpa sapa.....

Gelisah ku nanti kabarmu,
Hampir gusar ku di usik malam sendu.....
Melambung percik api memecah gelap,
Masih ku pendam tiap kata yg ingin ku ungkap.....
Dimana ruangnya,
Adakah waktunya....?

Nanti saat Tuhan memberi kita jalan dan kesempatan,
Ku harap tak ada hambatan yg menyita kemesraan.....

Resah ku Merindunya

Lembayung melepas kehangatan,
Rengkuh sinarnya di taburi keresahan.....
Redam merahku di sisi awan,
Di serap mega hatiku bertahan.....

Selami kerinduan,
Obati kekhawatiran,
Ada kelabu yg mencibir ketulusan.....
Terendap imaji dalam sunyi,
Menari pun ku akhiri,
Hanya bersenandung tentang lemahnya diri......

Ada kebisuan yg terlupa,
Kata yg terperangkap dalam makna.....
Menanti dan duduk sendiri,
Menguji Kebijaksanaan hati agar tegar jalani ini.....

Ku terima semua imaji mu,
Ku pahami semua ingin mu,
Dan ku cermati segala yg terpancar dari mu.....

Apa yg menguji kita,
Waktu.....
Dan tentu masih ada jarak antara aku dan dirimu.....

Kelak nanti saat kamu kembali,
Ku ingin kamu kenali aku lebih dalam lagi.....
Ku ingin kita lebih dekat lagi,
Atau mungkin lebih hangat lagi.....

Seperti kala pertama kita temukan perasaan ini,
Hasrat yg menggetarkan hati,
Dan Harapan yg bersandar pada Ilaahi.....

Bebaskan Dirimu

Senandung asmara menggema,
Kala jemari menjajaki guratan tasbihnya.....
Begitu banyak cara,
Berwarna-warni cerita dan realita.....

Tuhan coba sampaikan pesan lewat ilham,
Alirkan Rahmat yg menjawab mimpi-mimpi yg terpendam.....
Kita menari dalam tanya,
Mengadu pada rindu yg merona.....
Bercanda dalam mesra,
Memagut harapan dgn yakin pada Cinta.....

Apakah Cinta itu buta....?
Tidak bagiku,
Dan ku harap begitu pula dgn dirimu.....

Lihat....?
Betapa syahdunya kata dan makna merasuk dalam rasa,
Menyusup ke dalam tiap ruang yg terbaca.....
Ku sentuh imajimu,
Ku rangkul sepimu,
Dan ku tuntun matamu yg kosong dan ambigu.....

Jajarkan semua opini dan fakta,
Ideologi, logika dan estetika dunia.....
Kemana hatimu terhanyut....?
Kemana akalmu terpaut....?

Kita coba tafsirkan mimpi malam tadi,
Mengungkap tabir yg dalam tersembunyi.....
Mudah untuk di pahami,
Namun coba menyelami arti.....
Ada isyarat yg tersirat,
Hikmah tekuak dan rasa menjadi semakin kuat.....

Aku, juga dirimu.....
Ya, Kita.....
Berkaca lebih dalam pada cermin-cermin langit,
Meraba guratan rasi yg tampak rumit.....

Cermati tiap syair yg ku urai,
Juga tiap jawaban yg kau tuai.....
Apakah aku menyudutkanmu....?
Atau aku menekan dirimu....?

Pejamkan matamu Habibbah,
Merdeka kan jiwamu di lautan fitrah.....
Cerna tiap elegi yg ku bingkai,
Lalu lepaskan ruhmu dalam damai.....

Siapa dirimu??
Kamu adalah kesunyian yg rindukan keindahan.....

Seperti Rembulan yg menanti datangnya sentuhan dari sang Mentari,
Biarkan cahaya mencumbu Kalbu.....
Hingga dirimu rasakan ketenangan,
Biarkan kelembutan memanjamu dalam Iman.....

Aku ada disini,
Bukan untuk mencuri imajimu yg masih murni.....
Melainkan melindungi mu dgn harmoni,
Harmoni yg ku sebut sebagai Kesadaran diri.....

Biarkan Aku

Memudar merah di daratan Hampa,
Berkilau cahaya menghiasi sepi.....

Gelisah beralibi mengusik imaji,
Ku terdiam nikmati kopi sisa tadi.....
Ku renungi tiap motivasi,
Ku koreksi semua kebodohan ini.....
Coba menguak cacat jejak kehidupan,
Tergolek lemah ku dapati keadaan.....

Di antara dingin yg mengganggu,
Dan sunyi yg terus merayu.....
Ku hantam tiap alasan yg menjatuhkan,
Sematkan keterbatasan menjadi sebuah keharusan.....

Bertindak atau terinjak.....
Berlari atau di lukai.....
Berjuang atau terus jadi yg terbuang.....

Di sisi gelap ku robek keraguan,
Ku patahkan tiap palang yg menakutkan.....
Ini seperti tiap falsafah yg ku arungi,
Hanya kini adalah saatnya untuk menari.....
Di tengah gempita cara dan siasat,
Menembus teori dan setumpuk nasehat.....

Ada banyak jalan untuk sampai di tujuan,
Sementara materi bukan inti dari pencapaian.....

Biar ku temukan jalanku sendiri.....
Jika ingin berperan,
Maka jadilah sebagai sandaran,
Dan jagalah ruang keistimewaan.....
Kelak kan ku tunjukkan Puncak Indah yg sering kamu impikan,
Atau nyanyian di lembah sunyi yg kerap kamu lantunkan.....

Simpan Imajimu,
Biar ku bentangkan Harmoni yg tak bertepi.....

Bukan Cinta

Cerita merebah di lukis waktu,
Tintanya bertabur kala langkah terpatri lewati hari......
Ini hikmah tentang mata dan cahaya,
Diantara siang dan malam yg memainkan perannya dalam realita.....

Betapa ini bukan hal yg berbeda,
namun ada sensasi istimewa,
kala ku coba tuk menyentuh rasa yg ku cerna.....
Seperti ada jalan di rimbunnya hutan,
menemukan berlian yg tlah lama hilang,
Atau bagaikan serdadu yg pulang menyandang kemenangan dalam perang.....

Bukan sekedar rasa,
Bukan juga Harapan tanpa sandaran.....
Kita semua ingin bahagia,
namun bukan sekedar kesenangan sesaat yg penuh kepalsuan.....

Tangisan,
Juga senyuman.....
Tawa,
Begitu pula Kesedihan.....
Hanyalah realita yg pasti ada dan biasa.....

Apa yg sebenarnya membuat ini menjadi indah dan penuh makna.....?
Cinta?

Tahukah kau,
Wahai Permaisuri hati yg Kerelaannya masih ku nanti, dan Kemuliaannya masih tersembunyi.....

Bukan Cinta yg membuat jalan ini menjadi istimewa,
Apalagi sekelumit realita yg menjelma diatas dunia.....

Tanpa dirimu,
duniaku hanya akan menjadi hari yg berat, kelam dan melelahkan.....
Tanpa diriku,
Duniamu akan menjadi hari yg membosankan, seram hingga bahkan menakutkan.....

Bukan tentang realita,
Juga bukan tentang Cinta.....

Ini tentang kita wahai Kasih yg bernaung dalam rahasia,
Tentang sepasang manusia yg meraih harmoni tuk lalui dinamika dunia.....

Ridhwan Endri. Y (Juna), 29 Agustus 2014